SISTEM
PENDIDIKAN DI CHINA DAN INDIA
Diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah Sejarah Pendidikan
Dosen Pengampu : Ana Nurkhasanah,
M.Pd

Disusun
Oleh :
Kelompok
10
1.
Esy Winjanuarni (2288150002)
2.
Septi Nurwahidah (2288150023)
3.
Nur Syiam Eka Handayani (2288150033)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN
2017
KATA
PENGANTAR
Pertama-tama kami sebagai penulis menghaturkan Puji Syukur kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa yang telah memberikan segala Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Sistem Pendidikan di
China dan India” dengan baik.
Penyelesaian makalah ini bukan tanpa
mengalami hambatan, tetapi berkat kerja
keras dan ketekunan serta dorongan dan Do’a, serta kerja sama dari kelompok
kami, maka kami dapat mengatasi
segala masalah. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1.
Dosen mata kuliah Sejarah Pendidikan, Ibu Ana Nurhasanah, M.Pd yang telah memberikan kesempatan kepada kami
untuk menyelesaikan tugas dalam bentuk makalah ini.
2.
Teman-teman satu jurusan Pendidikan Sejarah 2015, yang
sudah memberikan dorongannya untuk menyelesaikan makalah ini.
Semoga perhatian dan
dorongan kalian mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan Yang Maha Pengasih,
Amin. Akhir kata dari kelompok kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah dan
teman – teman jurusan Pendidikan Sejarah, semoga tulisan ini dapat menambah
wawasan dan meningkatkan pengetahuan.
Serang,
1 Maret 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………................... i
DAFTAR ISI …………………………………………………………….......................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ………………………………………………...……...................... 1
B. Rumusan
Masalah ……………………………………………....….........…........... 1
C. Tujuan
……………………………………………………………….......................
2
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
Karakteristik Pendidikan di Cina dalam Pemikiran Kung Fu
Tze............................ 3
2.2.Karakteristik Pendidikan di India
dalam Pemikiran Rabindranath Tagore ................ 8
2.3.Perbandingan Pemikiran Pendidikan
antara Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore..........................................................................................................................
14
2.4. Aplikasi dalam Pemikiran Pendidikan
Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore di Era Global...……..............................................................................................................
15
BAB III PENUTUP
3.1.
Kesimpulan ……………………………………...……………………................... 17
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..........…...........
18
LAMPIRAN …………................…………………………………………...........….........
19
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sistem
pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar
mengajar untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif
mengembangkan potensi di dalam dirinya. Sebuah sistem pendidikan sangatlah
diperlukan karena hal ini lah yang nantinya akan mengatur jalannya pendidikan
di sebuah negara dan akan menjadi pedoman untuk jalannya proses pendidikan
tersebut. (Kompasiana, 2015, Sistem
Pendidikan.
http://www.kompasiana.com/andreancan/sistempendidikan_54f76a90a33311b0368b47ea,
diakses pada tanggal 1 Maret 2017).
Setiap
negara memiliki karakteristik dalam sistem pendidikannya. Seperti di Cina dan
India, pembentukan sistem pendidikan dipengaruhi oleh tokoh yang membawa
perubahan besar bagi negaranya. Dimulai dari sistem pendidikan di Cina,
dipengaruhi oleh sistem Kung Fu Tze yang merupakan ahli filsafat yang membawa
perubahan, bukan hanya dalam Pendidikan melainkan dalam dunia politik, sosial
dan budaya. Permulaan pendidikan Cina kuno mencapai puncak
dimulai pada Dinasti Han, dimana ajaran Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan
diterapkan dalam kehidupan masyarakat Cina.
Sedangkan
sistem pendidikan di India pada masa sistem klasik sangat didominasi oleh
sistem kasta. Dalam penyelenggaraannya, kasta brahmanalah yang berperan. Namun
sekitar abad ke-20 an, Rabindranath Tagore adalah sebagai pelopor pembawa
pencerahan dalam Santiniketan. Dalam bidang pendidikannya, Tagore telah membawa
dalam basis kelas di alam terbuka.
1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana
karakteristik Pendidikan di China dalam pemikiran Kung Fu Tze ?
1.2.2. Bagaimana
Karakteristik Pendidikan di India dalam pemikiran Rabindranath Tagore?
1.2.3. Bagaimana
Perbandingan pemikiran pendidikan antara Kung Fu Tze dengan Rabindranath
Tagore?
1.2.4. Bagaimana
Aplikasi Pemikiran Pendidikan Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore dalam
Pendidikan di Era Global ?
1.3.
Tujuan
1.3.1. Untuk
Mengetahui Karakteristik Pendidikan di China dalam Pemikiran Kung Fu Tze.
1.3.2. Untuk
Mengetahui Karakteristik Pendidikan di India dalam Pemikiran Rabindranath
Tagore.
1.3.3. Untuk
Mengetahui Perbandingan Pemikiran Pendidikan antara Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore.
1.3.4. Untuk
Mengetahui Aplikasi dalam Pemikiran
Pendidikan Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore di Era Global.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Karakteristik Pendidikan di Cina
Ada sebuah hadist mengenai pendidikan, yang dalam bahasa
Indonesia berbunyi: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Dalam hadist ini
muncul satu negara, yaitu negeri Cina. Dari hadist ini timbul pertanyaan, ada
apa dengan pendidikan cina sehingga dapat dijadikan panutan untuk negeri lain.
Dalam buku Muhammad Said dan Junimar Affan (1987: 119) yang berjudul Mendidik
Dari Zaman ke Zaman dikatakan bahwa: “Di negeri Cina pendidikan mendapat tempat
yang penting sekali dalam penghidupan”. Dengan mendapatkan peranan yang sangat
penting dalam kehidupan masyarakat, membuat sistem pendidikan di Cina
meningkat. Sikap orang Cina yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya
tela melahirkan sebuah filofis orang Cina mengenai pendidikan dan pendidikan
ini telah lama menjaga kekuasaan Cina berapa lama, sampai pada masuknya bangsa
asing ke Cina yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno di China. Tetapi
pada kesempatan ini tidak menjelaskan sampai masuknya bangsa asing ke Cina.
a. Pendidikan
Cina Masa Klasik
Permulaan pendidikan Cina kuno mencapai puncak dimulai pada
Dinasti Han, dimana ajaran Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan diterapkan
dalam kehidupan masyarakat Cina, yang sebelumnya ajaran ini dibrangus oleh
penguasa sebelumnya. Masyarakat Cina yang menganggap pendidikan sejalan dengan
filsafat, bahkan menjadi alat bagi filsafat, yang mengutamakan etika (Muhammad
Said dan Junimar Affan, 1987: 119). Anggapan ini membuat pendidikan di Cina
mengiringi kembalinya popularitas aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam masyarakat
Cina.
Ciri-ciri pendidikan di Cina masa klasik di antaranya adalah:
1. Pendidikan
tidak dihubungkan dengan agama, tetapi dengan tradisi dan kehidupan praktis.
Yang dihormati bukan pandeta tetapi leluhurnya.
2. Penyelenggara
pendidikan adalah negara dan keluarga.
3. Tujuan
pendidikan adalah mendidik kepala-kepala keluarga yang baik, pegawai yang
rajin, suami yang setia, anak-anak yang patuh, pegawai-pegawai yang rajin,
warga negara yang jujur dan rela berbakti, tentara yang gagah berani.
Pada
masa Dinasti Han banyak melahirkan para sarjana-sarjana yang kelak akan
memimpin negara dan telah membuat Dinasti Han sebagai salah satu dinasti yang
besar dalam sejarah Cina. Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh bekas
pengikut-pengikut Kung Fu Tse ini telah melahirkan sebuah golongan yang
terkenal dalam sejarah Cina dan menentukan perjalanan kekuasaan Dinasti Han,
yaitu Kaum Gentry. Kaum gentry merupakan suatu komunitas
orang-orang terpelajar yang telah menempuh pendidikan dan sistem ujian Negara.
Sistem pendidikan yang diterapkan oleh pihak pemerintahan pada saat itu pada
awalnya bertujuan untuk mencari calon-calon pejabat pemerintahan yang beraliran
konfusius. Jenjang pendidikan didasarkan atas tingkatan daerah administrative
pemerintahan. Setiap distrik memiliki sekolah-sekolah, sampai pada akademi di
ibukota kerajaan. Setiap jenjang tersebut diharuskan melewati system ujian yang
terbagi ke dalam tiga tahapan. Sistem ujian ini dinilai sangat berat, dikarenakan
dari banyak orang yang ikut ujian ini hanya beberapa yang berhasil lulus.
Kekaisaran dinasti han telah memberikan dasar-daar pada sistem ujian di daratan
Cina, walaupun selanjutnya ada perubahan dan penambahan. Sistem pendidikan ini
juga membawa perubahan pada stratifikasi masyarakat dan pola prestise dalam
masyarakat. System pendidikan yang menghasilkan lulusan-lulusan pelajar secara
alami membentuk kelas baru, yang pada akhirnya menggeser posisi bangsawan dalam
stratifikasi masyarakat Cina. Dan pola prestise dalam masyarakat, dimana
masyarakat tidak lagi sepenuhnya memandang orang dari kepemilikan harta atau
keturunananya, tetapi masyarakat memandang seseorang dari jenjang pendidikan
yang telah ditempunya. Disamping itu, kaum gentry ini diberikan penghormatan
dan penghargaan berupa hak-hak istimewa dari pemerintahan dan masyarakat.
Pada masa Dinasti Han sudah terdapat sebuah system pendidikan
yang ketat. Para pegikut-pengikut konfusius yang berada di beberapa daerah
distrik mendirikan sekolah-sekolah yang bersifat informal. Disebut sekolah
informal dikarenakan proses belajar mengajar yang dilakukan tidak terikat oleh
tempat atau waktu. Dengan menggunakan gambar yang tertera dalam pembelajaran
dapat diketahui metode mengajar yang digunakan para guru dalam menyampaikan
bahan materi pelajaran. Jadi dari gambar dan penjelasan tersebut dapat
diketahui bahwa metode mengajar yang digunakan oleh guru pada saat itu ialah
metode ekspositori (ceramah). Penyimpulan ini dikarenakan yang dilakukakan
serupa dengan metode ekspositori, dimana guru lebih aktif disini dalam
mentransfer ilmu kepada para murid. Setelah tahapan belajar mengajar, maka
melangkah kepada tahapan evaluasi atau system ujian. Sistem ujian yang berlaku
pada masa Dinasti Han merupakan suatu hal yang unik dalam system pendidikan
Cina. Pada masa itu sudah berkembang suatu system evaluasi yang sangat
kompleks.
Menurut Rochiati Wiriaatmadja, A. Wildan, dan Dadan Wildan
(2003: 144 – 145) mengatakan bahwa ujian ini dibagi ke dalam tiga tahap atau
jenjang. Tiga tahap ujian tersebut antara lain:
1. Ujian
tingkat pertama diadakan di beberapa ibukota prefektur (kabupaten). Calon
pegawai yang dapat melewati ujian tahap pertama ini diberi gelar Hsui-Tsai,
bila diartikan yaitu “bakat yang sedang berkembang”.
2. Ujian
tingkat dua yakni ujian tingkat provinsi untuk mencapai gelar Chu-Jen, yakni
“orang yang berhak mendapatkan pangkat”. Orang-orang yang berhak mengikuti
tahapan ujian ini yaitu orang-orang yang telah mendapatkan gelar Hsui-Tsai.
Para peserta ujian tidak langusng mengikuti ujian, tetapi mereka diharuskan
mengikuti latihan di akademi prefektur dalam rangka menghadapi persiapan ujian
Chu Jen. Ujian provinsi ini diadakan tiga tahun sekali. Mereka yang dapat lulus
dari ujian ini dengan nilai tertinggi akan mendapatkan tunjangan belajar.
3. Pada
tahap akhir yaitu ujian tahap tiga yang diadakan di ibukota kerajaan. Ujian ini
diadakan setiap tiga tahun sekali, dilaksanakan setahun setelah ujian provinsi.
Tahapan ujian bertujuan untuk mendapatkan gelar Chih Shih, yakni “Sarjana naik
pangkat”.
Ujian tersebut dilaksanakan di ruang dalam bangunan-bangunan
yang sangat panjang dan lurus. Bangunan panjang tersebut terdiri dari
kamar-kamar kecil yang disekat. Calon pegawai tersebut tinggal di dalam kamar
selama sehari untuk ujian tahap pertama, tiga hari untuk ujian tahap kedua, dan
lebih lama lagi untuk ujian tahapan ketiga. Output-output
yang dikeluarkan dari sistem pendidikan ini disalurkan menjadi pegawai-pegawai
pemerintahan dan mereka yang gagal dalam mengikuti ujian ini akan menjadi
tenaga-tenaga pengajar di daerah asalnya.
b. Kung
Fu Tze (551-478 SM)
Kebudayaan bangsa
tionghoa diciptakan oleh Kung Fu Tze (551-478 SM). Tulisan-tulisan yang
diciptakan oleh Kung Fu Tze melukiskan kebijaksanaan sebelumnya. Hasil
pemikiran itu ditulis dan dijadikan panutan atau pedoman pengetahuan generasi
selanjutnya. Jadi, pengetahuan kita tentang tiongkok timbul pada waktu Kung Fu
Tze. Tujuan pendidikan mereka ialah memelihara tatapnya yang ada. Apabila
meleset orang akan dapat celaan. Bangsa tiongkok tidak beragama, tetapi mereka
memelihara kebiasaan memuja nenek moyang mereka. Pemujaan itu lebih dari
moralitas yang dalam kebesaran ialah segala sesuatu yang sesuai dengan masa lampau, sedangkan
kebajikan ialah perhatian kepada cita-cita yang sudah di tentukan oleh adat
kebiasaan. Oleh karena itu, yang menjadi pokok pengajar ialah moralitas,
sedangikan etika bergantung dari tradisi kuno. Oleh karena semuanya bersifat
penghormatan atau hal-hal yang lampau, anak-anak dipersiapkan untuk menjalankan
kewajiban-kewajibannya. Maka sifat pendidikannya melatih pemimpin-pemimpin yang
dapat memiliki pengetahuan-pengetahuan ajaran kuno dan kewajibannya memberikan
hal-hal tersebut kepada rakyat. Orang tiongkok menganggap kaisar sebagai anak
dewa sehingga kestabilan kaisar menjadi tujuan penidikan. Untuk kestabilan itu
diperlukan orang-orang yang mempunyai kewajiban resmi. Mereka diwajibkan
memimpin dan memberi teladan seperti dinyatakan kitab suci.
Tipe pendidikannya yang
mencolok ialah adanya latihan-latihan moral, moral disini berarti tingkah laku.
Bangsa tiongkok mementingkan latihan jasmani, juga (kesehatan). Mereka
mengutamakan soal-soal damai dari pada perang dan pendapat bahwa kesehatan jiwa
lebih tinggi dari pada perang dan pendapat bahwa kesehatan jiwa lebih tinggi
daripada kesehatan badan. Basis pendidikan ialah Kung Fu Tze. Agama-agama tidak
mementingkan tuhan. KungFu Tze sebagai penemu system moralitas yang
naturalisasi (yaitu yang ditanamkan pada tiap dada orang tionghoa).
Di dalam sejarah ajaran
Kung Fu Tze berpusat pada cita cita hidup yang baik. Mereka mementingkan
bersaudaraan antar manusia meskipun persaudaraan itu ditentukan oleh kelas. Ada
5 nilai persaudaraan yang fundamental.
1. Antar
Pemerintah dan Rakyat.
2. Antar
Ayah dan Anak.
3. Antara
Suami dan Istri.
4. Antara
Kakak dan Adik.
5. Antara
Teman dan Teman.
Persaudaraan
yang dikemukkan oleh Kung Fu Tze berdasarkan kepada doktrin tunduk. Rakyat
tunduk kepada pemerintah. Anak kepada ayang, dan seterusnya. Dengan demikian,
semua kebiasaan akan tetap terjaga. Berkaitan dengan hal tersebut, ia
mengajukan 5 kewajiban utama :
1.
Kewajiban/keutama ini merupakan cinta
yang universal
2. Keadilan,
yaitu dengan tidak adanya kemenyebelahan.
3. Perasaan
akan perintah, yaitu menyesuaikan diri untuk dapat dipergunakan. Tiap orang
mempunyai posisi masing-masing.
4. Berhari-hari,
kejujuran hati dari pikiran, selalu berbuat jujur.
5. Kesetiaan,
merupakan kesetiaan yang harus dijalankan kepada ayang, dan sebagainya.
c. Metode
Pendidikan oleh Kung Fu Tze
Kung Fu Tse adalah guru besar, banyak murid-muridnya dari
jauh maupun dekat. Adapun metode nya disamakan dengan Socrates dan Yunani.
Karena adanya persamaan bahwa 200 tahun sebelum Socrates metode Socrates telah
ada. Adapun caranya adalah berjalan dari suatu tempat ke tempat lain untuk
menyebarkan ajaran yang disertai oleh pengikutnya yang setia. Selain mengajar,
dia ingin supaya murid-muridnya mengajukan pendapat mengenai ajarannya.
Sebagai guru Kung Fu Tse sangat mementingkan kapasitas
individu. Jadi, ia berusaha keras supaya murid-muridnya nanti mempunyai
pengetahuan yang tinggi dan luhur. Dengan demikian, kita dapat memberi
kesimpulan bahwa pada zaman itu Kung Fu Tse telah mempergunakan metode baru,
ialah memperhatikan minat dan bakat dari tiap-tiap muridnya. Sering kali Kung
Fu Tse membawa murid-murid nya keluar sekolah supaya suasana lebih rileks dan
diharapkan hubungan guru dengan murid dapat terjalin dengan baik. Tetapi
meskipun demikian ada keburukannya ialah bahwa memberikan pelajaran nya yang terlalu
mementingkan tentang ingatan. Sekolah-sekolah dipompakan ingatan untuk dapat
diingat. Jadi, tujuan utama ialah supaya orang dapat mengingat secara cepat dan
tepat. Metode ini kurang baik karena memperlambat anak dalam mengembangkan
inisiatifnya. (Agung, Leo, 2016:61)
2.2. Karakteristik Pendidikan di India
a. Pendidikan
di India Masa Klasik
Rakyat India terbagi dalam 4 kasta,
yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Bagi orang India ilmu adalah alat
untuk mencari kesempurnaan mistik. Mistik adalah penyepian batin dari kenyataan
dengan tujuan manunggal dengan Tuhan. Kasta brahmana terdiri dari kaum pendeta.
Kasta ksatria adalah kaum bangsawan, prajurit, mereka menerima pengajaran dalam
membaca, menulis, berhitung, dan ilmu siasat berperang. Kasta waisya terdiri
dari para tukang, pedagang, peladang, dan sebagainya. Kasta waisya mendapatkan
pengetahuan dan pengajaran dalam bidang pertanian. Kasta paling rendah atau
kasta sudra dianggap sebagai manusia yang hina, yang hanya dapat melakukan
pekerjaan budak, sehingga mereka tidak berhak mendapat pengajaran. Ciri
pendidikan pada masa itu adalah:
1. Pendidikan
agama diutamakan. Dasar pendidikannya adalah kitab veda (kitab suci orang India).
2. Kasta
brahmana menjadi penyelenggara dari pendidikan. Mereka menguasai hidup dan hanya
kasta ini yang mempunyai pengetahuan.
3. Tujuan
pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan serta kesempurnaan mistik dengan ilmu
pengetahuan sebagai alatnya.
4. Pendidikan
untuk kaum perempuan tidak diperhatikan, kecuali untuk
calon-calon penari kuil.
Pelaksanaan pendidikan diawali
dengan pemberian munya (kalung suci), yaitu, seutas tali yang digantungkan dari
bahu kiri ke pinggang kanan. Munya sebagai tanda penerimaan dalam lingkungan
keagamaan. Upacara ini disebut upacara upanayana (udayana). Pemberian munya
pada anak brahmana saat berumur 8 tahun, sedang untuk anak ksatria pada usia 11
tahun, dan bagi anak waisya saat berusia 12 tahun. Selama penyelenggaraan
pendidikan, murid-murid tinggal bersama dengan gurunya, hidup sederhana dan
bekerja keras membantu keluarga gurunya. Sistem ini disebut sistem guru-kula
(kula:murid), atau pendidikan asrama. Guru dan istrinya dianggap sebagai
orangtua oleh para murid. Sistem guru kula masih tetap dipertahankan sampai
masa India modern di samping sistem pendidikan yang lain (klasikal), terutama
sekali karena pengaruh Rabindranath Tagore. Ia adalah seorang tokoh pendidikan
di India yang terkenal.
b. Rabindranath
Tagore
Lahir di Calcutta tanggal 7 Mei
1861. Dikirim untuk belajar di Inggris pada tahun 1877 untuk belajar ilmu kehakiman. Tahun 1886 ia
menikah dan gemar menjalani hidup secara pendeta. Pada tahun 1900 mendirikan
Shanti Niketan (panti perdamaian). Tahun 1913 ia mulai mengadakan perjalanan
mengelilingi dunia.Tagore adalah seorang pembaharu sosial, pendidik, pujangga,
ahli musik dan ahli filsafat yang berusaha memperjuangkan kemajuan bangsanya
dan memperjuangkan tercapainya perdamaian dunia.Hasil karyanya di bidang
kesusastraan yang terkenal adalah Gitanjali (1913), dan merebut hadiah nobel
bagi kesusastraan. Tahun 1915 mendapat gelar Doktor honoris causa dalam bidang
kesusastraan dari universitas Calcutta dan tahun 1941 dari universitas Oxford.
Pada tahun 1927 ia mengunjungi Jawa dan Bali, juga mengunjungi Taman Siswa.
Tagore meninggal pada usia 80 tahun di Santi Nikethan pada tahun 1941. Bukunya
yang terkenal adalah the Hope and Despair of Bengalie (1878), isinya adalah
bahwa antara Timur dan Barat harus ada kerjasama.
Cita-cita hidupnya adalah:
1.
Pembaharuan kebudayaan India lama dengan menggabungkan
antara idealisme Timur dan realisme Barat. Tapi tetap dengan pedoman bahwa
India harus tetap memiliki sifat-sifatnya yang asli.
2.
persaudaraan sedunia tanpa mengenal perbedaan kasta,
kulit, bangsa, dan agama.
3.
pembaharuan di lapangan sosial, memajukan rakyat
dengan pendidikan rakyat, sehingga setiap desa menjadi suatu Sriniketan (panti
kemakmuran).
c. Kontribusi
Rabindranath Tagore dalam Pendidikan
Dalam bidang pendidikan dan
pengajaran:
1. Murid
belajar dengan melakukan (mencoba sendiri), dengan kegiatan musik dan tari,dengan
hidup dan bekerja di alam bebas.
2. Agama
menjadi dasar sistem pendidikan asrama (sistem guru-kula).
3. Kehidupan di
sekolah harus otonom, yang berhak mengatur dan memerintah sendiri (self government).
Lembaga pendidikan yang berhasil ia
dirikan: Shantiniketan (panti perdamaian), tahun 1901 di Bolpur (159 km dari
Calcutta), Sriniketan (panti kemakmuran), sekolah pertanian dan perkebunan,
tahun 1913; Universitas Visva Bharati (Visva:
dunia, Bharati: India) tahun 1921,
merupakan penjelmaan perdamaian dunia. Semboyannya “jatra visvan bharati ekanidan” seluruh dunia berkumpul pada satu tempat,
ia menghendaki universitasnya menjadi pusat kebudayaan dunia. Fakultas-fakultasnya
meliputi:
a. Fakultas kala bhavana (fakultas kesenian).
b. Fakultas sangit bhavana (fakultas musik).
c. Fakultas hindi bhavana (fakultas sastra dan kebudayaan Hindu).
Dalam filsafat Tagore pendidikan, pengembangan estetika
indera adalah sama pentingnya dengan intelektual-jika tidak lebih-dan musik,
sastra, seni, tari dan drama diberi menonjol besar dalam kehidupan sehari-hari
sekolah. Hal ini terutama jadi setelah dekade pertama sekolah. Menggambar pada
kehidupan rumah di Jorasanko, Rabindranath mencoba untuk menciptakan suasana di
mana seni akan menjadi naluriah. Salah satu daerah pertama yang ditekankan
adalah musik. Rabindranath menulis bahwa pada masa remaja, sebuah “cascade of musical
emotion” .
Sesuai dengan teori pembelajaran, Rabindranath tidak hanya berbicara
atau menulis kepada siswa, melainkan melibatkan mereka dengan hal apa pun. Para
siswa diizinkan akses ke ruang di mana dia membaca tulisan-tulisan baru untuk
guru dan kritikus, dan mereka didorong untuk membacakan tulisan mereka sendiri
di malam sastra khusus. Dalam mengajar juga ia percaya dalam menyajikan tingkat
sulit sastra, yang siswa tidak mungkin sepenuhnya memahami, tetapi yang akan
merangsang mereka.
Teori Tagore pendidikan ditandai dengan
nilai-nilai naturalistik dan estetika. Dia memiliki keyakinan bahwa "Jalan
terluas yang mengarah ke solusi dari semua masalah kita adalah pendidikan. Pendidikan
dapat mengembangkan pola hidup yang baru. Berpuncak pada realisasi universal
manusia. Sistem Tagore pendidikan menekankan aspek fisik intelektual sosial
moral yang ekonomi dan spiritual dari kehidupan manusia. Dimana seseorang dapat
mengembangkan kepribadian yang terintegrasi. Tujuan pendidikan sebagaimana
tercermin dalam lembaga pendidikan yang didirikan oleh Rabindranath Tagore di
Santiniketan adalah sebagai berikut:
1. Realisasi
diri
Spiritualisme adalah inti dari
humanisme, konsep ini telah tercermin dalam filsafat pendidikan Tagore.
Realisasi diri adalah tujuan penting dari pendidikan. Manifestasi kepribadian
tergantung pada realisasi diri dan pengetahuan spiritual individu.
2. Pengembangan
Intelektual
Tagore juga sangat menekankan
perkembangan intelektual anak. Dengan perkembangan intelektual ia berarti
pengembangan imajinasi, pemikiran bebas kreatif, rasa ingin tahu yang konstan
dan kewaspadaan pikiran. Anak harus bebas untuk mengadopsi pembelajaran caranya
sendiri yang akan menyebabkan semua pengembangan bulat.
3. Pengembangan
Fisik
filsafat pendidikan Tagore juga
bertujuan pembangunan fisik anak. Dia memberi banyak pentingnya suara dan fisik
yang sehat. Ada berbagai jenis latihan seperti yoga, permainan dan olahraga
diresepkan di Santiniketan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan.
4. Cinta untuk
kemanusiaan
Tagore
menyatakan bahwa seluruh alam semesta adalah satu keluarga. Pendidikan bisa
mengajarkan orang untuk menyadari keesaan dunia. Pendidikan untuk pemahaman
internasional dan persaudaraan universal adalah tujuan penting dari filsafat
pendidikan nya. Perasaan kesatuan dapat dikembangkan melalui konsep seperti
persaudaraan manusia semua makhluk dihadapan Tuhan adalah sama di muka bumi
ini.
5. Pembentukan Hubungan
Manusia dan Tuhan
Manusia menanggung
kualitas beragam dan potensi yang ditawarkan oleh Allah. Kualitas ini adalah
bawaan dan bawaan. Hubungan antara manusia dan Tuhan adalah kuat dan permanen.
Namun dedikasi untuk spiritualisme dan kesucian akan mengarah pada hubungan
yang harmonis dengan manusia, alam dan Tuhan.
6. Kebebasan
Kebebasan
dianggap sebagai aspek integral dari pembangunan manusia. Pendidikan adalah
proses manusia membuat, itu mengeksplorasi kekuatan bawaan ada dalam orang itu.
Ini bukan pemaksaan bukan proses liberal mereka memberikan kebebasan sepenuhnya
kepada individu untuk semua pengembangan bulat. Dia mengatakan, Pendidikan
telah bersandar hanya jika disampaikan melalui jalan kebebasan ".
7. Kombinasi
Hubungan Objek
Sebuah dunia
yang damai hanya mungkin bila korelasi antara manusia dan alam akan dibentuk.
8. Bahasa Ibu
sebagai Media Intruksi
Bahasa
adalah kendaraan yang benar dari ekspresi diri. Manusia dapat bebas
mengekspresikan pemikirannya pada lidahnya. Tagore telah menekankan bahasa ibu
sebagai pengantar untuk pendidikan anak.
9. Pengembangan
Moral dan Spiritual
Tagore
menekankan pelatihan moral dan spiritual dalam pemikiran pendidikannya. Pendidikan
moral dan spiritual lebih penting daripada pengetahuan kutu buku untuk
pengembangan integral dari kepribadian manusia. Harus ada ketentuan yang
memadai untuk pengembangan kegiatan tanpa pamrih, kerjasama dan cinta sesama
perasaan dan berbagi di kalangan mahasiswa di lembaga pendidikan.
10. Pembangunan
Sosial
Menurut
Tagore, "Brahma" jiwa tertinggi memanifestasikan dirinya melalui
orang-orang dan makhluk lainnya. Karena Dia adalah sumber dari semua
manusia-manusia dan makhluk, sehingga semua adalah sama. Oleh karena itu
Rabindranath Tagore mengatakan, "pelayanan kepada manusia adalah pelayanan
kepada Tuhan". Semua harus mengembangkan hubungan sosial dan
rekan-perasaan dari awal kehidupan seseorang. Pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan kepribadian individu serta karakter sosial yang memungkinkan dia
untuk hidup sebagai makhluk yang layak.
d. Metode
Pendidikan oleh Rabindranath Tagore
Rabindranath Tagore menganjurkan penekanan yang berbeda dalam
mengajar. Daripada mempelajari budaya nasional untuk perang menang dan dominasi
budaya yang dikenakan, ia menganjurkan sistem pengajaran yang dianalisis
sejarah dan budaya untuk kemajuan yang telah dibuat dalam mogok hambatan sosial
dan keagamaan. Pendekatan seperti menekankan inovasi yang telah dibuat dalam mengintegrasikan
individu dari berbagai latar belakang ke dalam kerangka yang lebih besar, dan
dalam menyusun kebijakan ekonomi yang menekankan keadilan sosial dan
mempersempit kesenjangan antara kaya dan miskin. Seni akan dipelajari karena
perannya dalam memajukan imajinasi estetika dan mengekspresikan tema universal.
Visinya budaya tidak statis satu, tapi satu yang menganjurkan
budaya baru, dan ia berjuang untuk sebuah dunia di mana beberapa suara didorong
untuk berinteraksi satu sama lain dan untuk mendamaikan perbedaan dalam
komitmen bagi perdamaian dan saling keterkaitan. kepribadian murah hati dan
berjuang untuk mendobrak hambatan dari segala macam memberi kita sebuah model
untuk cara multikulturalisme bisa eksis dalam kepribadian manusia tunggal, dan
jenis individu yang proses pendidikan harus bercita-cita menuju tujuan
pendidikan Tagore.
2.3. Perbandingan Pemikiran Pendidikan antara
Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore
|
No
|
Kung Fu Tze
|
Rabindranath Tagore
|
|
1
|
Pendidikan tidak dihubungkan dengan Agama, melainkan dengan tradisi dan
kehidupan praktis.
|
Agama menjadi dasar sistem pendidikan asrama (sistem guru-kula)
|
|
2
|
Penyelenggara pendidikan adalah adalah negara dan keluarga
|
Kehidupan di sekolah harus otonom, yang berhak mengatur dan memerintah
sendiri
|
|
3
|
Berpedoman pada peraturan yang telah disusun oleh nenek moyang.
Leluhurlah yang dijadikan teladan. Tradisi menguasai pandangan hidup mereka.
|
Menekankan pada aspek fisik
intelektual sosial moral yang ekonomi dan spiritual dari kehidupan manusia.
|
|
4
|
Kung Fu Tse telah mempergunakan metode baru, ialah memperhatikan minat
dan bakat dari tiap-tiap muridnya.
|
Murid belajar dengan melakukan (mencoba sendiri), dengan kegiatan musik
dan tari,dengan hidup dan bekerja di alam bebas.
|
|
5.
|
Kung Fu Tze menekankan pada pola mengingat, jadi setiap murid dipompakan untuk selalu mengingat tentang
materi pelajaran.
|
Rabindranath menanamkan nilai-nilai naturalistik dan estetika melalui,
musik, sastra, puisi, dan seni.
|
2.4. Aplikasi dalam Pemikiran Pendidikan Kung
Fu Tze dan Rabindranath Tagore di Era Global
Dalam pengaplikasian mengenai pemikiran pendidikan dari Kung
Fu Tze dan Rabindranath Tagore dalam pendidikan di Era Global ini adalah :
1. Kung
Fu Tze menekankan betapa pentingnya
pendidikan moral bagi masyarakat, dikatakan bahwa pendidikan harus tersedia
bagi semua orang karena pendidikan merupakan hal yang terpenting untuk menjadi
manusia ideal. Kung Fu Tze mengatakan bahwa bila ada pendidikan maka tidak ada
lagi perbedaan kelas.
2. Kung
Fu Tze mengajarkan bahwa untuk mendidik masyarakat harus melalui latihan moral
dan jasmani.
3. Esensi
Pemikiran Rabindranath tagore dibidang pendidikan adalah membuat kurikulum yang
berbasis lingkungan dengan kelas dialam terbuka.
4. Penerapan
dalam pendidikan Rabindranath mengembangkan teori belajar alam bawah sadar,
yang dalam prakteknya tidak mengajarkan bicara, atau menulis pada siswa, tetapi
ia lebih melibatkan mereka dengan apapun yang sedang mereka tulis.
5. Sistem
guru-kula oleh Rabindranath Tagore telah diterapkan pada sekolah sekolah asrama.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Dari
materi tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1.
Karakteristik Pendidikan di Cina menekankan
pada pendidikan moral, jasmani. Serta
memiliki metode dengan pola mengingat, memperhatikan minat dan bakat
muridnya yang pelopori oleh Kung Fu Tze.
2.
Karakteristik Pendidikan di India dalam
masa klasik dipengaruhi oleh sistem kasta, kemudian muncul tokoh Rabindranath
Tagore dengan perubahan Santiniketan dalam Pendidikan.
3.
Rabindranath Tagore menekankan
pendidikan tersebut pada nilai-nilai naturalistik dan estetika seni.
4.
Bentuk aplikasi pendidikan Kung Fu Tze dan
Rabindranath Tagore di era global ini yaitu telah memberikan esensi terhadap
metode, kurikulum, maupun proses belajarnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Agung, Leo., dan
T.Suparman.2016. Sejarah Pendidikan (edisi
ke-2).Yogyakarta: Penerbit Ombak.
O’Connell,
Kathlenn M.2003. Rabindranath Tagore on Education. http://infed.org/mobi/rabindranath-tagore-on-education/,diakses
pada tanggal 1 Maret 2017.
Swastik.2012.Contribution
of Rabindranath Tagore in Education.
http://www.preservearticles.com/201105066344/contribution-of-rabindranath-tagore-in-education.html,
diakses pada tanggal 1 Maret 2017.
LAMPIRAN

Dari kanan :
1. Nur Syiam Eka Handayani (2288150033)
2. Septi Nurwahidah (2288150023)
3. Esy Winjanuarni (2288150002)
Komentar
Posting Komentar