Makalah Sistem Pendidikan di China dan India



SISTEM PENDIDIKAN DI CHINA DAN INDIA
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pendidikan
Dosen Pengampu : Ana Nurkhasanah, M.Pd

Description: download (7)









Disusun Oleh :
Kelompok 10

1.      Esy Winjanuarni                            (2288150002) 
2.      Septi Nurwahidah                         (2288150023) 
3.      Nur Syiam Eka Handayani           (2288150033) 






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN
2017






KATA  PENGANTAR
Pertama-tama kami sebagai penulis menghaturkan Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan segala Rahmat dan Karunia-Nya  sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Sistem Pendidikan di China dan India” dengan baik.
Penyelesaian makalah ini bukan tanpa mengalami hambatan, tetapi berkat  kerja keras dan ketekunan serta dorongan dan Do’a, serta kerja sama dari kelompok kami, maka kami dapat mengatasi segala masalah. Oleh karena itu kami  mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Dosen mata kuliah Sejarah Pendidikan, Ibu Ana Nurhasanah, M.Pd yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan tugas dalam bentuk makalah ini.
2.      Teman-teman satu jurusan Pendidikan Sejarah 2015, yang sudah memberikan dorongannya untuk menyelesaikan makalah ini.
Semoga perhatian dan dorongan kalian mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Amin. Akhir kata dari kelompok kami mengucapkan terima kasih  kepada Dosen mata kuliah dan teman – teman jurusan Pendidikan Sejarah, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan.

Serang, 1 Maret 2017


Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………...................  i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..........................  ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ………………………………………………...……......................  1
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………....….........…...........  1
C.     Tujuan ……………………………………………………………….......................  2
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Karakteristik Pendidikan di Cina dalam Pemikiran Kung Fu Tze............................  3
2.2.Karakteristik Pendidikan di India dalam Pemikiran Rabindranath Tagore ................ 8
2.3.Perbandingan Pemikiran Pendidikan antara Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore.......................................................................................................................... 14
2.4. Aplikasi dalam Pemikiran Pendidikan Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore di Era Global...…….............................................................................................................. 15

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ……………………………………...……………………................... 17  
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..........…........... 18
LAMPIRAN …………................…………………………………………...........…......... 19









BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sistem pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya. Sebuah sistem pendidikan sangatlah diperlukan karena hal ini lah yang nantinya akan mengatur jalannya pendidikan di sebuah negara dan akan menjadi pedoman untuk jalannya proses pendidikan tersebut. (Kompasiana, 2015, Sistem Pendidikan. http://www.kompasiana.com/andreancan/sistempendidikan_54f76a90a33311b0368b47ea, diakses pada tanggal 1 Maret 2017).
Setiap negara memiliki karakteristik dalam sistem pendidikannya. Seperti di Cina dan India, pembentukan sistem pendidikan dipengaruhi oleh tokoh yang membawa perubahan besar bagi negaranya. Dimulai dari sistem pendidikan di Cina, dipengaruhi oleh sistem Kung Fu Tze yang merupakan ahli filsafat yang membawa perubahan, bukan hanya dalam Pendidikan melainkan dalam dunia politik, sosial dan budaya. Permulaan pendidikan Cina kuno mencapai puncak dimulai pada Dinasti Han, dimana ajaran Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Cina.
Sedangkan sistem pendidikan di India pada masa sistem klasik sangat didominasi oleh sistem kasta. Dalam penyelenggaraannya, kasta brahmanalah yang berperan. Namun sekitar abad ke-20 an, Rabindranath Tagore adalah sebagai pelopor pembawa pencerahan dalam Santiniketan. Dalam bidang pendidikannya, Tagore telah membawa dalam basis kelas di alam terbuka.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1.      Bagaimana karakteristik Pendidikan di China dalam pemikiran Kung Fu Tze ?
1.2.2.      Bagaimana Karakteristik Pendidikan di India dalam pemikiran Rabindranath Tagore?
1.2.3.      Bagaimana Perbandingan pemikiran pendidikan antara Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore?
1.2.4.      Bagaimana Aplikasi Pemikiran Pendidikan Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore dalam Pendidikan di Era Global ?

1.3. Tujuan
1.3.1.      Untuk Mengetahui Karakteristik Pendidikan di China dalam Pemikiran Kung Fu Tze.
1.3.2.      Untuk Mengetahui Karakteristik Pendidikan di India dalam Pemikiran Rabindranath Tagore.
1.3.3.      Untuk Mengetahui Perbandingan Pemikiran Pendidikan  antara Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore.
1.3.4.      Untuk Mengetahui Aplikasi dalam  Pemikiran Pendidikan Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore di Era Global.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Karakteristik Pendidikan di Cina
Ada sebuah hadist mengenai pendidikan, yang dalam bahasa Indonesia berbunyi: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Dalam hadist ini muncul satu negara, yaitu negeri Cina. Dari hadist ini timbul pertanyaan, ada apa dengan pendidikan cina sehingga dapat dijadikan panutan untuk negeri lain. Dalam buku Muhammad Said dan Junimar Affan (1987: 119) yang berjudul Mendidik Dari Zaman ke Zaman dikatakan bahwa: “Di negeri Cina pendidikan mendapat tempat yang penting sekali dalam penghidupan”. Dengan mendapatkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, membuat sistem pendidikan di Cina meningkat. Sikap orang Cina yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya tela melahirkan sebuah filofis orang Cina mengenai pendidikan dan pendidikan ini telah lama menjaga kekuasaan Cina berapa lama, sampai pada masuknya bangsa asing ke Cina yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno di China. Tetapi pada kesempatan ini tidak menjelaskan sampai masuknya bangsa asing ke Cina.
a.       Pendidikan Cina Masa Klasik
Permulaan pendidikan Cina kuno mencapai puncak dimulai pada Dinasti Han, dimana ajaran Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Cina, yang sebelumnya ajaran ini dibrangus oleh penguasa sebelumnya. Masyarakat Cina yang menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat, bahkan menjadi alat bagi filsafat, yang mengutamakan etika (Muhammad Said dan Junimar Affan, 1987: 119). Anggapan ini membuat pendidikan di Cina mengiringi kembalinya popularitas aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam masyarakat Cina.
Ciri-ciri pendidikan di Cina masa klasik di antaranya adalah:
1.      Pendidikan tidak dihubungkan dengan agama, tetapi dengan tradisi dan kehidupan praktis. Yang dihormati bukan pandeta tetapi leluhurnya.
2.      Penyelenggara pendidikan adalah negara dan keluarga.
3.      Tujuan pendidikan adalah mendidik kepala-kepala keluarga yang baik, pegawai yang rajin, suami yang setia, anak-anak yang patuh, pegawai-pegawai yang rajin, warga negara yang jujur dan rela berbakti, tentara yang gagah berani.
Pada masa Dinasti Han banyak melahirkan para sarjana-sarjana yang kelak akan memimpin negara dan telah membuat Dinasti Han sebagai salah satu dinasti yang besar dalam sejarah Cina. Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh bekas pengikut-pengikut Kung Fu Tse ini telah melahirkan sebuah golongan yang terkenal dalam sejarah Cina dan menentukan perjalanan kekuasaan Dinasti Han, yaitu Kaum Gentry. Kaum gentry merupakan suatu komunitas orang-orang terpelajar yang telah menempuh pendidikan dan sistem ujian Negara. Sistem pendidikan yang diterapkan oleh pihak pemerintahan pada saat itu pada awalnya bertujuan untuk mencari calon-calon pejabat pemerintahan yang beraliran konfusius. Jenjang pendidikan didasarkan atas tingkatan daerah administrative pemerintahan. Setiap distrik memiliki sekolah-sekolah, sampai pada akademi di ibukota kerajaan. Setiap jenjang tersebut diharuskan melewati system ujian yang terbagi ke dalam tiga tahapan. Sistem ujian ini dinilai sangat berat, dikarenakan dari banyak orang yang ikut ujian ini hanya beberapa yang berhasil lulus. Kekaisaran dinasti han telah memberikan dasar-daar pada sistem ujian di daratan Cina, walaupun selanjutnya ada perubahan dan penambahan. Sistem pendidikan ini juga membawa perubahan pada stratifikasi masyarakat dan pola prestise dalam masyarakat. System pendidikan yang menghasilkan lulusan-lulusan pelajar secara alami membentuk kelas baru, yang pada akhirnya menggeser posisi bangsawan dalam stratifikasi masyarakat Cina. Dan pola prestise dalam masyarakat, dimana masyarakat tidak lagi sepenuhnya memandang orang dari kepemilikan harta atau keturunananya, tetapi masyarakat memandang seseorang dari jenjang pendidikan yang telah ditempunya. Disamping itu, kaum gentry ini diberikan penghormatan dan penghargaan berupa hak-hak istimewa dari pemerintahan dan masyarakat.
Pada masa Dinasti Han sudah terdapat sebuah system pendidikan yang ketat. Para pegikut-pengikut konfusius yang berada di beberapa daerah distrik mendirikan sekolah-sekolah yang bersifat informal. Disebut sekolah informal dikarenakan proses belajar mengajar yang dilakukan tidak terikat oleh tempat atau waktu. Dengan menggunakan gambar yang tertera dalam pembelajaran dapat diketahui metode mengajar yang digunakan para guru dalam menyampaikan bahan materi pelajaran. Jadi dari gambar dan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa metode mengajar yang digunakan oleh guru pada saat itu ialah metode ekspositori (ceramah). Penyimpulan ini dikarenakan yang dilakukakan serupa dengan metode ekspositori, dimana guru lebih aktif disini dalam mentransfer ilmu kepada para murid. Setelah tahapan belajar mengajar, maka melangkah kepada tahapan evaluasi atau system ujian. Sistem ujian yang berlaku pada masa Dinasti Han merupakan suatu hal yang unik dalam system pendidikan Cina. Pada masa itu sudah berkembang suatu system evaluasi yang sangat kompleks.
Menurut Rochiati Wiriaatmadja, A. Wildan, dan Dadan Wildan (2003: 144 – 145) mengatakan bahwa ujian ini dibagi ke dalam tiga tahap atau jenjang. Tiga tahap ujian tersebut antara lain:
1.      Ujian tingkat pertama diadakan di beberapa ibukota prefektur (kabupaten). Calon pegawai yang dapat melewati ujian tahap pertama ini diberi gelar Hsui-Tsai, bila diartikan yaitu “bakat yang sedang berkembang”.
2.      Ujian tingkat dua yakni ujian tingkat provinsi untuk mencapai gelar Chu-Jen, yakni “orang yang berhak mendapatkan pangkat”. Orang-orang yang berhak mengikuti tahapan ujian ini yaitu orang-orang yang telah mendapatkan gelar Hsui-Tsai. Para peserta ujian tidak langusng mengikuti ujian, tetapi mereka diharuskan mengikuti latihan di akademi prefektur dalam rangka menghadapi persiapan ujian Chu Jen. Ujian provinsi ini diadakan tiga tahun sekali. Mereka yang dapat lulus dari ujian ini dengan nilai tertinggi akan mendapatkan tunjangan belajar.
3.      Pada tahap akhir yaitu ujian tahap tiga yang diadakan di ibukota kerajaan. Ujian ini diadakan setiap tiga tahun sekali, dilaksanakan setahun setelah ujian provinsi. Tahapan ujian bertujuan untuk mendapatkan gelar Chih Shih, yakni “Sarjana naik pangkat”.
Ujian tersebut dilaksanakan di ruang dalam bangunan-bangunan yang sangat panjang dan lurus. Bangunan panjang tersebut terdiri dari kamar-kamar kecil yang disekat. Calon pegawai tersebut tinggal di dalam kamar selama sehari untuk ujian tahap pertama, tiga hari untuk ujian tahap kedua, dan lebih lama lagi untuk ujian tahapan ketiga. Output-output yang dikeluarkan dari sistem pendidikan ini disalurkan menjadi pegawai-pegawai pemerintahan dan mereka yang gagal dalam mengikuti ujian ini akan menjadi tenaga-tenaga pengajar di daerah asalnya.
b.      Kung Fu Tze (551-478 SM)
Kebudayaan bangsa tionghoa diciptakan oleh Kung Fu Tze (551-478 SM). Tulisan-tulisan yang diciptakan oleh Kung Fu Tze melukiskan kebijaksanaan sebelumnya. Hasil pemikiran itu ditulis dan dijadikan panutan atau pedoman pengetahuan generasi selanjutnya. Jadi, pengetahuan kita tentang tiongkok timbul pada waktu Kung Fu Tze. Tujuan pendidikan mereka ialah memelihara tatapnya yang ada. Apabila meleset orang akan dapat celaan. Bangsa tiongkok tidak beragama, tetapi mereka memelihara kebiasaan memuja nenek moyang mereka. Pemujaan itu lebih dari moralitas yang dalam kebesaran ialah segala sesuatu  yang sesuai dengan masa lampau, sedangkan kebajikan ialah perhatian kepada cita-cita yang sudah di tentukan oleh adat kebiasaan. Oleh karena itu, yang menjadi pokok pengajar ialah moralitas, sedangikan etika bergantung dari tradisi kuno. Oleh karena semuanya bersifat penghormatan atau hal-hal yang lampau, anak-anak dipersiapkan untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya. Maka sifat pendidikannya melatih pemimpin-pemimpin yang dapat memiliki pengetahuan-pengetahuan ajaran kuno dan kewajibannya memberikan hal-hal tersebut kepada rakyat. Orang tiongkok menganggap kaisar sebagai anak dewa sehingga kestabilan kaisar menjadi tujuan penidikan. Untuk kestabilan itu diperlukan orang-orang yang mempunyai kewajiban resmi. Mereka diwajibkan memimpin dan memberi teladan seperti dinyatakan kitab suci.
Tipe pendidikannya yang mencolok ialah adanya latihan-latihan moral, moral disini berarti tingkah laku. Bangsa tiongkok mementingkan latihan jasmani, juga (kesehatan). Mereka mengutamakan soal-soal damai dari pada perang dan pendapat bahwa kesehatan jiwa lebih tinggi dari pada perang dan pendapat bahwa kesehatan jiwa lebih tinggi daripada kesehatan badan. Basis pendidikan ialah Kung Fu Tze. Agama-agama tidak mementingkan tuhan. KungFu Tze sebagai penemu system moralitas yang naturalisasi (yaitu yang ditanamkan pada tiap dada orang tionghoa).
Di dalam sejarah ajaran Kung Fu Tze berpusat pada cita cita hidup yang baik. Mereka mementingkan bersaudaraan antar manusia meskipun persaudaraan itu ditentukan oleh kelas. Ada 5 nilai persaudaraan yang fundamental.
1.      Antar Pemerintah dan Rakyat.
2.      Antar Ayah dan Anak.
3.      Antara Suami dan Istri.
4.      Antara Kakak dan Adik.
5.      Antara Teman dan Teman.
Persaudaraan yang dikemukkan oleh Kung Fu Tze berdasarkan kepada doktrin tunduk. Rakyat tunduk kepada pemerintah. Anak kepada ayang, dan seterusnya. Dengan demikian, semua kebiasaan akan tetap terjaga. Berkaitan dengan hal tersebut, ia mengajukan 5 kewajiban utama :
1.      Kewajiban/keutama ini merupakan cinta yang universal
2.      Keadilan, yaitu dengan tidak adanya kemenyebelahan.
3.      Perasaan akan perintah, yaitu menyesuaikan diri untuk dapat dipergunakan. Tiap orang mempunyai posisi masing-masing.
4.      Berhari-hari, kejujuran hati dari pikiran, selalu berbuat jujur.
5.      Kesetiaan, merupakan kesetiaan yang harus dijalankan kepada ayang, dan sebagainya.

c.       Metode Pendidikan oleh Kung Fu Tze
Kung Fu Tse adalah guru besar, banyak murid-muridnya dari jauh maupun dekat. Adapun metode nya disamakan dengan Socrates dan Yunani. Karena adanya persamaan bahwa 200 tahun sebelum Socrates metode Socrates telah ada. Adapun caranya adalah berjalan dari suatu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan ajaran yang disertai oleh pengikutnya yang setia. Selain mengajar, dia ingin supaya murid-muridnya mengajukan pendapat mengenai ajarannya.
Sebagai guru Kung Fu Tse sangat mementingkan kapasitas individu. Jadi, ia berusaha keras supaya murid-muridnya nanti mempunyai pengetahuan yang tinggi dan luhur. Dengan demikian, kita dapat memberi kesimpulan bahwa pada zaman itu Kung Fu Tse telah mempergunakan metode baru, ialah memperhatikan minat dan bakat dari tiap-tiap muridnya. Sering kali Kung Fu Tse membawa murid-murid nya keluar sekolah supaya suasana lebih rileks dan diharapkan hubungan guru dengan murid dapat terjalin dengan baik. Tetapi meskipun demikian ada keburukannya ialah bahwa memberikan pelajaran nya yang terlalu mementingkan tentang ingatan. Sekolah-sekolah dipompakan ingatan untuk dapat diingat. Jadi, tujuan utama ialah supaya orang dapat mengingat secara cepat dan tepat. Metode ini kurang baik karena memperlambat anak dalam mengembangkan inisiatifnya. (Agung, Leo, 2016:61)
2.2. Karakteristik Pendidikan di India
a.       Pendidikan di India Masa Klasik
Rakyat India terbagi dalam 4 kasta, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Bagi orang India ilmu adalah alat untuk mencari kesempurnaan mistik. Mistik adalah penyepian batin dari kenyataan dengan tujuan manunggal dengan Tuhan. Kasta brahmana terdiri dari kaum pendeta. Kasta ksatria adalah kaum bangsawan, prajurit, mereka menerima pengajaran dalam membaca, menulis, berhitung, dan ilmu siasat berperang. Kasta waisya terdiri dari para tukang, pedagang, peladang, dan sebagainya. Kasta waisya mendapatkan pengetahuan dan pengajaran dalam bidang pertanian. Kasta paling rendah atau kasta sudra dianggap sebagai manusia yang hina, yang hanya dapat melakukan pekerjaan budak, sehingga mereka tidak berhak mendapat pengajaran. Ciri pendidikan pada masa itu adalah:
1.      Pendidikan agama diutamakan. Dasar pendidikannya adalah kitab veda (kitab suci orang India).
2.      Kasta brahmana menjadi penyelenggara dari pendidikan. Mereka menguasai hidup dan hanya kasta ini yang mempunyai pengetahuan.
3.      Tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan serta kesempurnaan mistik dengan ilmu pengetahuan sebagai alatnya.
4.      Pendidikan untuk kaum perempuan tidak diperhatikan, kecuali untuk
calon-calon penari kuil.
Pelaksanaan pendidikan diawali dengan pemberian munya (kalung suci), yaitu, seutas tali yang digantungkan dari bahu kiri ke pinggang kanan. Munya sebagai tanda penerimaan dalam lingkungan keagamaan. Upacara ini disebut upacara upanayana (udayana). Pemberian munya pada anak brahmana saat berumur 8 tahun, sedang untuk anak ksatria pada usia 11 tahun, dan bagi anak waisya saat berusia 12 tahun. Selama penyelenggaraan pendidikan, murid-murid tinggal bersama dengan gurunya, hidup sederhana dan bekerja keras membantu keluarga gurunya. Sistem ini disebut sistem guru-kula (kula:murid), atau pendidikan asrama. Guru dan istrinya dianggap sebagai orangtua oleh para murid. Sistem guru kula masih tetap dipertahankan sampai masa India modern di samping sistem pendidikan yang lain (klasikal), terutama sekali karena pengaruh Rabindranath Tagore. Ia adalah seorang tokoh pendidikan di India yang terkenal.
b.      Rabindranath Tagore
Lahir di Calcutta tanggal 7 Mei 1861. Dikirim untuk belajar di Inggris pada tahun 1877  untuk belajar ilmu kehakiman. Tahun 1886 ia menikah dan gemar menjalani hidup secara pendeta. Pada tahun 1900 mendirikan Shanti Niketan (panti perdamaian). Tahun 1913 ia mulai mengadakan perjalanan mengelilingi dunia.Tagore adalah seorang pembaharu sosial, pendidik, pujangga, ahli musik dan ahli filsafat yang berusaha memperjuangkan kemajuan bangsanya dan memperjuangkan tercapainya perdamaian dunia.Hasil karyanya di bidang kesusastraan yang terkenal adalah Gitanjali (1913), dan merebut hadiah nobel bagi kesusastraan. Tahun 1915 mendapat gelar Doktor honoris causa dalam bidang kesusastraan dari universitas Calcutta dan tahun 1941 dari universitas Oxford. Pada tahun 1927 ia mengunjungi Jawa dan Bali, juga mengunjungi Taman Siswa. Tagore meninggal pada usia 80 tahun di Santi Nikethan pada tahun 1941. Bukunya yang terkenal adalah the Hope and Despair of Bengalie (1878), isinya adalah bahwa antara Timur dan Barat harus ada kerjasama.
Cita-cita hidupnya adalah:
1.      Pembaharuan kebudayaan India lama dengan menggabungkan antara idealisme Timur dan realisme Barat. Tapi tetap dengan pedoman bahwa India harus tetap memiliki sifat-sifatnya yang asli.
2.      persaudaraan sedunia tanpa mengenal perbedaan kasta, kulit, bangsa, dan agama.
3.      pembaharuan di lapangan sosial, memajukan rakyat dengan pendidikan rakyat, sehingga setiap desa menjadi suatu Sriniketan (panti kemakmuran).
c.       Kontribusi Rabindranath Tagore dalam Pendidikan
Dalam bidang pendidikan dan pengajaran:
1.      Murid belajar dengan melakukan (mencoba sendiri), dengan kegiatan musik dan tari,dengan hidup dan bekerja di alam bebas.
2.      Agama menjadi dasar sistem pendidikan asrama (sistem guru-kula).
3.      Kehidupan di sekolah harus otonom, yang berhak mengatur dan memerintah sendiri (self government).
Lembaga pendidikan yang berhasil ia dirikan: Shantiniketan (panti perdamaian), tahun 1901 di Bolpur (159 km dari Calcutta), Sriniketan (panti kemakmuran), sekolah pertanian dan perkebunan, tahun 1913; Universitas Visva Bharati (Visva: dunia, Bharati: India) tahun 1921, merupakan penjelmaan perdamaian dunia. Semboyannya “jatra visvan bharati ekanidan” seluruh dunia berkumpul pada satu tempat, ia menghendaki universitasnya menjadi pusat kebudayaan dunia. Fakultas-fakultasnya meliputi:
a. Fakultas kala bhavana (fakultas kesenian).
b. Fakultas sangit bhavana (fakultas musik).
c. Fakultas hindi bhavana (fakultas sastra dan kebudayaan Hindu).
Dalam filsafat Tagore pendidikan, pengembangan estetika indera adalah sama pentingnya dengan intelektual-jika tidak lebih-dan musik, sastra, seni, tari dan drama diberi menonjol besar dalam kehidupan sehari-hari sekolah. Hal ini terutama jadi setelah dekade pertama sekolah. Menggambar pada kehidupan rumah di Jorasanko, Rabindranath mencoba untuk menciptakan suasana di mana seni akan menjadi naluriah. Salah satu daerah pertama yang ditekankan adalah musik. Rabindranath menulis bahwa pada masa remaja, sebuah “cascade of musical emotion.
Sesuai dengan teori pembelajaran, Rabindranath tidak hanya berbicara atau menulis kepada siswa, melainkan melibatkan mereka dengan hal apa pun. Para siswa diizinkan akses ke ruang di mana dia membaca tulisan-tulisan baru untuk guru dan kritikus, dan mereka didorong untuk membacakan tulisan mereka sendiri di malam sastra khusus. Dalam mengajar juga ia percaya dalam menyajikan tingkat sulit sastra, yang siswa tidak mungkin sepenuhnya memahami, tetapi yang akan merangsang mereka.
Teori Tagore pendidikan ditandai dengan nilai-nilai naturalistik dan estetika. Dia memiliki keyakinan bahwa "Jalan terluas yang mengarah ke solusi dari semua masalah kita adalah pendidikan. Pendidikan dapat mengembangkan pola hidup yang baru. Berpuncak pada realisasi universal manusia. Sistem Tagore pendidikan menekankan aspek fisik intelektual sosial moral yang ekonomi dan spiritual dari kehidupan manusia. Dimana seseorang dapat mengembangkan kepribadian yang terintegrasi. Tujuan pendidikan sebagaimana tercermin dalam lembaga pendidikan yang didirikan oleh Rabindranath Tagore di Santiniketan adalah sebagai berikut:
1.      Realisasi diri
Spiritualisme adalah inti dari humanisme, konsep ini telah tercermin dalam filsafat pendidikan Tagore. Realisasi diri adalah tujuan penting dari pendidikan. Manifestasi kepribadian tergantung pada realisasi diri dan pengetahuan spiritual individu.
2.      Pengembangan Intelektual
Tagore juga sangat menekankan perkembangan intelektual anak. Dengan perkembangan intelektual ia berarti pengembangan imajinasi, pemikiran bebas kreatif, rasa ingin tahu yang konstan dan kewaspadaan pikiran. Anak harus bebas untuk mengadopsi pembelajaran caranya sendiri yang akan menyebabkan semua pengembangan bulat.
3.      Pengembangan Fisik
filsafat pendidikan Tagore juga bertujuan pembangunan fisik anak. Dia memberi banyak pentingnya suara dan fisik yang sehat. Ada berbagai jenis latihan seperti yoga, permainan dan olahraga diresepkan di Santiniketan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan.
4.      Cinta untuk kemanusiaan
Tagore menyatakan bahwa seluruh alam semesta adalah satu keluarga. Pendidikan bisa mengajarkan orang untuk menyadari keesaan dunia. Pendidikan untuk pemahaman internasional dan persaudaraan universal adalah tujuan penting dari filsafat pendidikan nya. Perasaan kesatuan dapat dikembangkan melalui konsep seperti persaudaraan manusia semua makhluk dihadapan Tuhan adalah sama di muka bumi ini.
5.      Pembentukan Hubungan Manusia dan Tuhan
Manusia menanggung kualitas beragam dan potensi yang ditawarkan oleh Allah. Kualitas ini adalah bawaan dan bawaan. Hubungan antara manusia dan Tuhan adalah kuat dan permanen. Namun dedikasi untuk spiritualisme dan kesucian akan mengarah pada hubungan yang harmonis dengan manusia, alam dan Tuhan.
6.      Kebebasan
Kebebasan dianggap sebagai aspek integral dari pembangunan manusia. Pendidikan adalah proses manusia membuat, itu mengeksplorasi kekuatan bawaan ada dalam orang itu. Ini bukan pemaksaan bukan proses liberal mereka memberikan kebebasan sepenuhnya kepada individu untuk semua pengembangan bulat. Dia mengatakan, Pendidikan telah bersandar hanya jika disampaikan melalui jalan kebebasan ".
7.      Kombinasi Hubungan Objek
Sebuah dunia yang damai hanya mungkin bila korelasi antara manusia dan alam akan dibentuk.
8.      Bahasa Ibu sebagai Media Intruksi
Bahasa adalah kendaraan yang benar dari ekspresi diri. Manusia dapat bebas mengekspresikan pemikirannya pada lidahnya. Tagore telah menekankan bahasa ibu sebagai pengantar untuk pendidikan anak.
9.      Pengembangan Moral dan Spiritual
Tagore menekankan pelatihan moral dan spiritual dalam pemikiran pendidikannya. Pendidikan moral dan spiritual lebih penting daripada pengetahuan kutu buku untuk pengembangan integral dari kepribadian manusia. Harus ada ketentuan yang memadai untuk pengembangan kegiatan tanpa pamrih, kerjasama dan cinta sesama perasaan dan berbagi di kalangan mahasiswa di lembaga pendidikan.
10.  Pembangunan Sosial
Menurut Tagore, "Brahma" jiwa tertinggi memanifestasikan dirinya melalui orang-orang dan makhluk lainnya. Karena Dia adalah sumber dari semua manusia-manusia dan makhluk, sehingga semua adalah sama. Oleh karena itu Rabindranath Tagore mengatakan, "pelayanan kepada manusia adalah pelayanan kepada Tuhan". Semua harus mengembangkan hubungan sosial dan rekan-perasaan dari awal kehidupan seseorang. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kepribadian individu serta karakter sosial yang memungkinkan dia untuk hidup sebagai makhluk yang layak.


d.      Metode Pendidikan oleh Rabindranath Tagore
Rabindranath Tagore menganjurkan penekanan yang berbeda dalam mengajar. Daripada mempelajari budaya nasional untuk perang menang dan dominasi budaya yang dikenakan, ia menganjurkan sistem pengajaran yang dianalisis sejarah dan budaya untuk kemajuan yang telah dibuat dalam mogok hambatan sosial dan keagamaan. Pendekatan seperti menekankan inovasi yang telah dibuat dalam mengintegrasikan individu dari berbagai latar belakang ke dalam kerangka yang lebih besar, dan dalam menyusun kebijakan ekonomi yang menekankan keadilan sosial dan mempersempit kesenjangan antara kaya dan miskin. Seni akan dipelajari karena perannya dalam memajukan imajinasi estetika dan mengekspresikan tema universal.
Visinya budaya tidak statis satu, tapi satu yang menganjurkan budaya baru, dan ia berjuang untuk sebuah dunia di mana beberapa suara didorong untuk berinteraksi satu sama lain dan untuk mendamaikan perbedaan dalam komitmen bagi perdamaian dan saling keterkaitan. kepribadian murah hati dan berjuang untuk mendobrak hambatan dari segala macam memberi kita sebuah model untuk cara multikulturalisme bisa eksis dalam kepribadian manusia tunggal, dan jenis individu yang proses pendidikan harus bercita-cita menuju tujuan pendidikan Tagore.

2.3. Perbandingan Pemikiran Pendidikan antara Kung Fu Tze dengan Rabindranath Tagore

No

Kung Fu Tze

Rabindranath Tagore
1
Pendidikan tidak dihubungkan dengan Agama, melainkan dengan tradisi dan kehidupan praktis.
Agama menjadi dasar sistem pendidikan asrama (sistem guru-kula)
2


Penyelenggara pendidikan adalah adalah negara dan keluarga

Kehidupan di sekolah harus otonom, yang berhak mengatur dan memerintah sendiri
3
Berpedoman pada peraturan yang telah disusun oleh nenek moyang. Leluhurlah yang dijadikan teladan. Tradisi menguasai pandangan hidup mereka.
Menekankan pada aspek fisik intelektual sosial moral yang ekonomi dan spiritual dari kehidupan manusia.
4
Kung Fu Tse telah mempergunakan metode baru, ialah memperhatikan minat dan bakat dari tiap-tiap muridnya.
Murid belajar dengan melakukan (mencoba sendiri), dengan kegiatan musik dan tari,dengan hidup dan bekerja di alam bebas.

5.
Kung Fu Tze menekankan pada pola mengingat, jadi setiap murid  dipompakan untuk selalu mengingat tentang materi pelajaran.
Rabindranath menanamkan nilai-nilai naturalistik dan estetika melalui, musik, sastra, puisi, dan seni.


2.4. Aplikasi dalam Pemikiran Pendidikan Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore di Era Global
Dalam pengaplikasian mengenai pemikiran pendidikan dari Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore dalam pendidikan di Era Global ini adalah :
1.      Kung Fu Tze  menekankan betapa pentingnya pendidikan moral bagi masyarakat, dikatakan bahwa pendidikan harus tersedia bagi semua orang karena pendidikan merupakan hal yang terpenting untuk menjadi manusia ideal. Kung Fu Tze mengatakan bahwa bila ada pendidikan maka tidak ada lagi perbedaan kelas.
2.      Kung Fu Tze mengajarkan bahwa untuk mendidik masyarakat harus melalui latihan moral dan jasmani.
3.      Esensi Pemikiran Rabindranath tagore dibidang pendidikan adalah membuat kurikulum yang berbasis lingkungan dengan kelas dialam terbuka.
4.      Penerapan dalam pendidikan Rabindranath mengembangkan teori belajar alam bawah sadar, yang dalam prakteknya tidak mengajarkan bicara, atau menulis pada siswa, tetapi ia lebih melibatkan mereka dengan apapun yang sedang mereka tulis.
5.      Sistem guru-kula oleh Rabindranath Tagore telah diterapkan pada sekolah sekolah asrama.









BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Dari materi tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1.      Karakteristik Pendidikan di Cina menekankan pada pendidikan moral, jasmani. Serta  memiliki metode dengan pola mengingat, memperhatikan minat dan bakat muridnya yang pelopori oleh Kung Fu Tze.
2.      Karakteristik Pendidikan di India dalam masa klasik dipengaruhi oleh sistem kasta, kemudian muncul tokoh Rabindranath Tagore dengan perubahan Santiniketan dalam Pendidikan.
3.      Rabindranath Tagore menekankan pendidikan tersebut pada nilai-nilai naturalistik dan estetika seni.
4.       Bentuk aplikasi pendidikan Kung Fu Tze dan Rabindranath Tagore di era global ini yaitu telah memberikan esensi terhadap metode, kurikulum, maupun proses belajarnya.






DAFTAR PUSTAKA

Agung, Leo., dan T.Suparman.2016. Sejarah Pendidikan (edisi ke-2).Yogyakarta: Penerbit Ombak.
O’Connell, Kathlenn M.2003. Rabindranath Tagore on Education. http://infed.org/mobi/rabindranath-tagore-on-education/,diakses pada tanggal 1 Maret 2017.
Swastik.2012.Contribution of Rabindranath Tagore in Education. http://www.preservearticles.com/201105066344/contribution-of-rabindranath-tagore-in-education.html, diakses pada tanggal 1 Maret 2017.














LAMPIRAN




Dari kanan :
1.     Nur Syiam Eka Handayani   (2288150033)
2.     Septi Nurwahidah                  (2288150023)
3.     Esy Winjanuarni                             (2288150002)












 

Komentar